Novel ini dibuka dengan sunyi yang ganjil. Sunyi rahim. Di jantung hutan Halmahera, Dokter Tenri menemukan fakta yang lebih mengerikan daripada wabah. Ada satu generasi perempuan suku Togutil kehilangan kemampuan melahirkan. Tubuh-tubuh mereka menjadi peta luka yang tak kasatmata, jejak racun yang perlahan merampas masa depan sebuah suku purba. Tambang nikel berdiri seperti altar baru, memuja logam sambil mengorbankan kehidupan.
Selama tujuh tahun Tenri meneliti dalam keterbatasan, dan di tengah keputusasaan itu, satu nama menyala seperti lilin di tengah badai, Sira. Satu-satunya perempuan muda yang rahimnya, secara medis, masih dinyatakan sehat. Ia bukan sekadar harapan biologis, tetapi simbol perlawanan terakhir.
Gaharu adalah pemuda yang ditunjuk melalui musyawarah adat untuk menikah dengan Sira. Ia satu2nya penerus suku Togutil yang darahnya masih bersih dari timbal. Sayangnya, Gaharu telah meninggalkan desa itu sebelas tahun lalu dan tak pernah kembali.
Tubuh Sira menjadi medan kecemasan, ia membawa harapan seluruh sukunya, namun juga beban yang tak pernah ia minta. Setiap hari tanpa menemukan Gaharu adalah satu langkah lebih dekat menuju kepunahan suku Togutil.
Sementara di Den Haag Belanda, pengadilan internasional kasus kerusakan lingkungan di Indonesia, sudah berjalan empat tahun lamanya. Satu miliar dollar dipertaruhkan di meja ruang sidang, melawan salah satu perusahaan tambang nikel terbesar di dunia, yang beroperasi di Maluku Utara.
Lelaki Terakhir adalah elegi bagi hutan, tubuh, dan ingatan—serta gugatan keras terhadap dunia yang lebih mencintai uang dan materi, daripada kehidupan itu sendiri.






Ulasan
Belum ada ulasan.